PROPAGANDIS NEWS – Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Wiwin Hendriani meminta orangtua dan guru untuk melakukan langkah-langkah preventif terhadap bullying pada anak karena dampaknya begitu besar. Anjuran ini Wiwin berikan berkaitan dengan berita duka datang dari Banyuwangi, Jawa Timur. Seorang anak kelas IV SD ditemukan tewas gantung diri di rumahnya. Pihak kepolisian menduga korban bunuh diri karena depresi akibat sering di-bully tidak memiliki ayah oleh teman-temannya. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Menurutnya, kasus tersebut merepresentasikan bagaimana tekanan kondisi psikologis anak bisa mengarah pada keputusan perilaku yang berisiko tinggi dan fatal. Baca juga: Pakar UPI: Hati-hati, Guru Bisa Membuka Peluang Bullying Tanpa Sadar “Ini menjadi refleksi pula bagi pihak orangtua, guru, dan para pendamping tumbuh kembang anak yang lain untuk melakukan langkah-langkah preventif agar kasus serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari,” tegasnya dalam keterangan resmi. Video Terkini 09:55 Click to full video Kontroversi Kebijakan Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di NTT Dampak psikologis yang dialami anak korban bullying Wiwin melanjutkan bahwa kasus tersebut bukan hanya menyoal perundungan, tetapi juga bagaimana orangtua dan guru mampu memberikan pengasuhan dan pendidikan. Ia menegaskan bahwa kedua hal itu dapat menguatkan berbagai keterampilan psikologis anak ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan. Kemudian, ahli psikolog perkembangan itu mengatakan bahwa perundungan dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis anak. Semakin sering frekuensi perundungan yang anak alami, maka makin tinggi pula intensitas dan variasi tipe perundungannya. Sebab itu, dampak yang ditimbulkan akan makin besar. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Baca juga: 6 Tanda Anak Cerdas Secara Emosional dan Cara Mengoptimalkannya Ia menuturkan, ada beberapa dampak yang mungkin terjadi pada anak. Pertama, stres dan cemas. Anak yang mengalami perundungan akan merasa tertekan dan cemas setiap hari. "Hal itu karena mereka merasa tidak aman dan tidak tahu kapan atau di mana serangan berikutnya akan terjadi," ujarnya. Kedua, stres terus-menerus dan tidak tertangani yang mengarah pada depresi. Anak yang mengalami perundungan akan merasakan kesedihan yang sangat dalam, kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya mereka sukai, merasa putus asa, dan kehilangan harapan akan masa depan. Ketiga, anak yang mengalami perundungan cenderung merasa rendah diri dan tidak berharga. Terlebih jika mereka merasa tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah situasi. “Tidak sedikit dari korban perundungan yang kemudian mengalami isolasi sosial. Mereka merasa terisolasi dari teman-teman, sulit untuk bergaul dan merasa tidak ada yang bisa mereka percayai atau ajak berbicara. Ini dapat terjadi jika teman-teman yang lain di luar pelaku perundungan juga tidak ada yang berusaha membantu atau memberikan dukungan yang menguatkan secara mental,” jelas ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) itu. Baca juga: Anak Jadi Pelaku Perundungan? Ini yang Perlu Dilakukan Orangtua Keempat, riset juga menunjukkan bahwa sebagian korban perundungan memunculkan perilaku kekerasan dan agresi karena emosi yang begitu kuat, kesal, marah, dan frustasi yang sangat. Desakan emosi negatif tersebut dapat mendorong mereka merespons tekanan dengan kekerasan dan agresi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. “Terakhir, berbagai gangguan perilaku yang lain, seperti gangguan pola makan dan tidur yang diakibatkan oleh kondisi pikiran dan emosi yang dipenuhi oleh kecemasan dan ketidaknyamanan yang lain juga bisa terjadi,” pungkasnya.
Sumber dari :
Sumber dari :
Komentar
Posting Komentar